Salahuddin El Ayyubi, MA
Staf Pengajar Dep Ekonomi Syariah FEM IPB dan Direktur Mualaf Center BAZNAS (MCB)
 
Sila pertama dari Pancasila bisa dikatakan adalah bagian dari nilai-nilai tauhid yaitu mengesakan Allah SWT. Nilai tauhid ini lah yang menjadi sumber kekuatan kemerdekaan bangsa. Kekuatan yang merubah penghambaan manusia kepada manusia, menjadi penghambaan manusia kepada Allah SWT pencipta alam semesta. Nilai ini kemudian dipertegas dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945: “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya”.
 
Tujuan utama yang pertama dari Maqashid Syariah itu sendiri adalah “Memelihara Agama” atau kita sebut dengan “Hifzu Ad-Din” yaitu sebuah konsep dasar untuk melindungi dan menjaga dasar-dasar agama dari segala hal yang merusaknya. Zakat itu sendiri merupakan ibadah sebagai perwujudan ketaatan kepada Allah SWT. Maka tidak heran, jika seorang Abu Bakar Shiddiq RA yang terkenal dengan kelemahlembutannya marah dan memutuskan untuk memerangi orang-orang yang enggan membayar zakat setelah Rasulullah SAW wafat. Hal itu, didasarkan kepada pemahaman yang sangat komprehensif bahwa perintah zakat adalah bernilai sama dengan perintah mendirikan shalat dimana ayat-ayat yang memerintahkan untuk shalat selalu menggandeng perintah untuk mengeluarkan zakat. Tidak salah jika kemudian Rasulullah SAW mengatakan, “hampir-hampir saja kefakiran itu menjadikan seseorang kepada kekafiran”. Maka, kategori fakir dan miskin mendapatkan tempat pertama dan kedua dalam proses distribusi zakat. Demikian pula kategori mualaf (orang yang baru memeluk Islam) agar dikuatkan dan dimantapkan dalam proses hijrah yang mereka lakukan. 
 
Sila kedua 
Manusia dalam bahasa Arab disebut dengan ‘insan’ yang terambil dari kata ‘anisa-ya’nas’ yang artinya jinak, ramah dan senang. Dari kata-kata inilah lahir istilah kemanusiaan atau humanity. Dalam Islam konsep kemanusiaan jelas terlukis 14 abad yang lalu dari wilayah yang gersang di sebuah padang bernama Arafah. Rasulullah SAW berpesan pada haji terakhir beliau, “Wahai manusia, ingatlah, sesungguhnya Tuhanmu adalah satu, dan nenek moyangmu juga satu. Tidak ada kelebihan bangsa Arab terhadap bangsa lain. Tidak ada kelebihan bangsa lain terhadap bangsa Arab. Tidak ada kelebihan orang yang berkulit merah terhadap orang yang berkulit hitam, tidak ada kelebihan orang yang berkulit hitam terhadap yang berkulit merah, kecuali dengan taqwanya" (HR. Ahmad, al-Baihaqi, dan al-Haitsami).
 
Kata "Adil" jelas berasal dari bahasa Arab ('adl), yang bermakna keseimbangan dan harmonis, tidak berat sebelah. Kata "Beradab" juga berasal dari bahasa Arab (aduba-ya'dub) berati berbudi lahir, sopan santun, dan berakhlak mulia sepertimana hadis Nabi SAW, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik”. Akhlak yang baik sebagai bukti dari keimanan dan akhlak yang buruk sebagai bukti atas lemahnya iman. 
 
Maqashid Syariah yang kedua adalah "Memelihara Jiwa" atau yang disebut ‘Hifdz An-Nafs’ yang bermakna tidak hanya memelihara jiwa manusia tetapi juga menjadikan kehidupan manusia itu sendiri bermartabat, beradab dan berkeadilan. Zakat datang untuk menghadirkan keadilan ditengah kehidupan manusia. Mendekatkan jurang pemisah antara sang kaya dan si miskin, sesuai dengan perintah Allah SWT (QS Al-Hasyr: 7). 
 
Dalam pelaksanaannya dana zakat tidak menutup mata terhadap isu-isu kemanusiaan yang terjadi seperti Rohingya, Suriah, Palestina, termasuk pula isu kebencanaan yang terjadi di Lombok, Palu, Banten, dan daerah-daerah bencana lainnya tidak luput dari perhatian zakat itu sendiri. Termasuk pula advokasi terhadap isu buruh migran yang masuk ke dalam ashnaf riqab (perbudakan) mendapat perhatian dari lembaga zakat agar jiwa, harta dan hak-hak mereka dapat terpenuhi. 
 
Sila Persatuan Indonesia
Dalam QS Al-Hujarat: 13, Allah memerintahkan agar kita dapat saling mengenal, saling memahami sehingga lahirlah saling tolong menolong. Bukan saling menutup diri, melecehkan, menghina, membangga-banggakan kelompok, suku bangsa, maupun daerah masing-masing yang hanya akan membawa kepada perpecahan, pertikaian, dan perpecahan bangsa ini. 
 
Semangat persatuan dan kesatuan ini lahir dari maqashid syariah yang ketiga yaitu "Memelihara Keturunan" atau yang disebut ‘Hifdz An-Nasl’ yaitu dengan memelihara keutuhan umat beragama, berbangsa dan bernegara demi keberlangsungan generasi yang akan datang. Konsep persatuan bangsa dengan mempertahankan kedaulatan negara seringkali dimaknai dengan turut serta dalam peperangan atau pertempuran. Padahal jihad fi sabilillah dalam konteks zakat juga dapat diwujudkan dengan jihad perkataan melalui dakwah amar makruf nahi munkar dengan berbagai macam cara dan sarana yang digunakan, jihad melalui harta dengan mendirikan sekolah, pusat-pusat dakwah, rumah sakit, dan lain sebagainya. 
 
Sila keempat
Melalui musyawarah, kita sedang memelihara dan menghormati akal masyarakat. Akal adalah anugerah terbesar yang diberikan Allah SWT kepada hamba Nya. Bahkan ia menjadi standar utama pembebanan manusia terhadap aturan-aturan Syariat (mukallaf). Akal lah yang membuat manusia menjadi istimewa dibandingkan makhluk Allah SWT lainnya. Oleh itu, banyak terdapat ayat Allah SWT untuk mendorong hambanya semangat dalam menggunakan akal yang ada. 
 
"Memelihara Akal" atau yang disebut ‘Hifdz Al-Aql’ adalah urutan yang ketiga dalam konsep maqashid syariah yaitu dengan menjaga, menggembangkan dan menggunakan akal tersebut dengan semaksimal mungkin. Sebaliknya, berusaha dengan segala upaya untuk menjadikan akal hidup dan bermanfaat dalam pengembangan pemikiran ilmiah, mencarikan solusi atas persoalan yang dihadapi oleh umat, mendirikan sekolah, kampus, pusat-pusat studi, dan lain sebagainya. Maka dalam proses distribusi zakat lahirlah fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor 120/MUI/II/1996 tentang Pemberian Zakat untuk Beasiswa kepada mereka yang memiliki kemampuan akademik yang baik namun terhalang oleh minimnya pembiayaan.
 
Sila Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Keadilan sosial menjadi bagian paling penting dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Keadilan sosial dalam Pancasila mencakup segala bidang kehidupan baik hukum, politik, ekonomi, sosial budaya, maupun pertahanan-keamanan. Keadilan dalam Islam adalah upaya mendorong setiap orang untuk memperbaiki kehidupan masyarakat tanpa membedakan bentuk, keturunan dan jenis orangnya. Setiap orang dipandang dan diberi kesempatan yang sama dalam mengembangkan seluruh potensi hidupnya. Keadilan sosial dalam konteks ekonomi kemudian diterjemahkan dalam berbagai model langkah distribusi kekayaan seperti zakat, sedekah, puasa (fidyah dan zakat fitrah), haji (pembayaran fidyah dan dam), jual beli, pinjam meminjam, gadai, akad kerjasama seperti mudharabah, akad perwakilan, sewa-menyewa, menghidupkan tanah yang mati (ihya’ul mawat), wakaf, hibah, hadiah, warisan, wasiat, pemberian nafkah, dan lain sebagainya. 
 
Hal ini adalah cerminan dari maqashid syariah yang ke lima yaitu "Memelihara Harta” atau kita sebut dengan “Hifdz Al-Maal" yaitu dalam bentuk pencegahan segala perbuatan yang menodai harta, misalnya penipuan, pencurian, monopoli, dan yang lainnya. Sebaliknya, berupaya mengatur sistem muamalah atas dasar keadilan dan kerelaan serta mengatur upaya peningkatan kekayaan secara halal dan proporsional. Dalam konteks distribusi zakat hari ini, maka konsep memelihara harta teraplikasikan pada model zakat produktif di bidang ekonomi yang dilakukan secara komprehensif melalui program modal usaha mustahik, ekonomi kreatif, pemberdayaan usaha tani, revitalisasi pasar desa, dan pemberdayaan usaha perikanan darat dan laut, serta beragam model penanganan dan pemberdayaan untuk meningkatkan kesejahteraan mustahik. Wallaahu a’lam. 
 
Sumber : Republika, 23 Mei 2019

Terkait

  • Lainnya

  • Bayar Zakat

DAFTAR REKENING ZAKAT BAZNAS

BRI Syariah 1000783214
BNI Syariah 0095555554
Bank Muamalat 3010070753
BSM 7001325498
BCA 6860148755
Bank Mandiri 0700001855555
CIMB Niaga Syariah 860000148800
Bank Mega Syariah 1000015559

an. BAZNAS

Untuk informasi daftar rekening lainnya, silahkan klik baznas.go.id/rekening

Atau melalui layanan zakat digital BAZNAS
1⃣ Website : baznas.go.id/bayarzakat
2⃣ Kitabisa : kitabisa.com/baznas
3⃣ Tokopedia : bit.ly/zakat-tokopedia
4⃣ Bukalapak : bit.ly/zakat-bukalapak
5⃣ Shopee : bit.ly/shopee-baznas

Konfirmasikan bukti transfer zakat dan infak Anda melalui:

Contact Centre BAZNAS
Whatsapp: +6287877373555
Telf: +62 21- 3904555
Email: layananmuzaki@baznas.or.id

Atau klik link :
bit.ly/KonfirmasiZakatBAZNAS

#ZakatTumbuhBermanfaat
http://baznas.go.id