Bandung (24/10) Direktur Pusat Kajian Strategis BAZNAS, Muhammad Hasbi Zaenal, Ph.D menjadi salah satu narasumber "Padjadjaran Islamic Economics Summit (PIES)" yang diselenggarakan oleh Program Studi Ekonomi Islam, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Padjadjaran. Acara tersebut dihadiri oleh para mahasiswa program studi ekonomi Islam lintas kampus se Indonesia.

Selama satu jam, beliau mensosialisaikan konsep ekonomi zakat yang holistik, yakni "zakatnomics". Zakatnomics adalah sebuah kesadaran untuk membangun tatanan ekonomi baru untuk mencapai kebahagiaan, keseimbangan kehidupan dan kemuliyaan hakiki manusia yang didasari dari semangat dan nilai-nilai luhur syariat zakat yaitu semangat memperjuangkan ketakwaan, semangat memperjuangkan produktifitas, semangat berekonomi dengan adil serta semangat mengejawantahkan ZISWAF dalam praktek kehidupan.

Dalam paparannya, konsep zakatnomics ini diambil dari perluasan tafsir surat at-Taubah ayat 60. Dimana ayat tersebut menggambarkan 4 pilar perjuangan ekonomi zakat. Pilar pertama adalah pilar perjuangan ketakwaan. Pilar kedua adalah pilar perjuangan produktifitas. Pilar ketiga adalah perjuangan ekonomi halal. Pilar keempat adalah pilar perjuangan penguatan sistem manajemen ziswaf.

Selain hal diatas, dijelaskan juga peluang dan tantangan zakatnomics di Indonesia. Berbicara potensi, zakat di Indonesia punya potensi sedemikian besar mencapai 230 triliyun, Indonesia antara negara dengan perubahan kelas menengah tercepat dimana ini merupakan peluang para muzakki masa depan, Indonesia merupakan negara yang sudah punya Undang-undang Zakat secara khusus yang sudah berlaku efektif di 34 Provinsi dan 514 Kab/Kota, dan potensi-potensi lainnya. Disamping potensi, ternyata ada banyak tantangan yang harus dilewati, misalnya zakat di Indonesia masih bersifat voluntary (sukarela) sehingga menjadi tantangan bagaimana sistem zakat yang ada bisa menyadarkan para muzakki akan kewajiban zakatnya. Selain sifatnya yang sukarela, sistem zakat yang ada masih minim insentif fiskal dari negara, dimana sistem zakat yang ada hanya bisa mengurangi pendapatan kena pajak, sedang yang diharapkan oleh para muzakki adalah zakat sudah bisa mengurangi pajak secara langsung.

Diakhir sesi beliau menjelaskan bahwa mekanisme pengejewantahan zakatnomics diatas harus mampu bersinergi dengan perkembangan zaman, saat ini perkembangan zaman itu sudah mengharuskan kita masuk dalam era Revolusi Industri 4.0 dan jika tidak konsekuensinya akan tertinggal dan ditinggalkan, dengan begitu maka zakatnomics dituntut untuk bisa menyesuaikan perkembangan RI 4.0 disemua lini tentunya, mulai dari pengumpulan, penyaluran, pengawasan, dan lain sebagainya.

Puskas News

Terkait

  • Lainnya

  • Bayar Zakat

DAFTAR REKENING ZAKAT BAZNAS

BRI Syariah 1000783214
BNI Syariah 0095555554
Bank Muamalat 3010070753
BSM 7001325498
BCA 6860148755
Bank Mandiri 0700001855555
CIMB Niaga Syariah 860000148800
Bank Mega Syariah 1000015559

an. BAZNAS

Untuk informasi daftar rekening lainnya, silahkan klik baznas.go.id/rekening

Atau melalui layanan zakat digital BAZNAS
1⃣ Website : baznas.go.id/bayarzakat
2⃣ Kitabisa : kitabisa.com/baznas
3⃣ Tokopedia : bit.ly/zakat-tokopedia
4⃣ Bukalapak : bit.ly/zakat-bukalapak
5⃣ Shopee : bit.ly/shopee-baznas

Konfirmasikan bukti transfer zakat dan infak Anda melalui:

Contact Centre BAZNAS
Whatsapp: +6287877373555
Telf: +62 21- 3904555
Email: layananmuzaki@baznas.or.id

Atau klik link :
bit.ly/KonfirmasiZakatBAZNAS

#ZakatTumbuhBermanfaat
http://baznas.go.id